Tujuh Filosofi Di Balik Kue Keranjang

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Kue keranjang atau dodol Cina dibuat 1 tahun sekali menjelang perayaan Imlek. Konon kue ini simbol kebersamaan dan kerukunan mencapai kesuksesan, maka wajib ada sebagai sajian dalam peribadatan, untuk dibagikan kepada saudara, dan tetangga. Sedikitnya ada 7 filosofi dari kue keranjang berdasarkan bahan pembuatan, rasa, tekstur, daya tahan, cara penyajian, cara pembuatan dan cara makannya.

Go To Malls

Tepung ketan sebagai bahan pembuat kue keranjang yang bersifat lengket memiliki makna persaudaraan yang erat dan selalu menyatu. Rasanya yang manis dari gula merah menggambarkan rasa suka cita akan kehidupan yang manis, menikmati keberkatan, kegembiraan.

Bentuk bulat dari kue keranjang tanpa sudut di semua sisi melambangkan pesan kekeluargaan tanpa melihat ada yang lebih penting dibandingkan lainnya dan akan selalu bersama tanpa batas akhir. Pesan kekeluargaan tidak hanya dengan keluarga saja, tetapi juga dengan komunitas, tetangga, klien, dan pelanggan usaha.

Sedangkan daya tahannya mempunyai arti hubungan yang abadi biarpun jaman telah berubah. Kesetiaan dan sikap saling menolong pun sangat penting untuk mewujudkan pesan ini sehingga diharapkan ketika waktu terus berjalan, rasa kekeluargaan akan selalu terjalin dengan baik.

Baca juga: Produsen Kue Keranjang Terpopuler Ini Sudah Berdiri 40 Tahun

Dalam dialek Hokkian, kue ini disebut Ti Kwe yang berarti ‘kue manis’, namun pelafalannya terdengar seperti kata ‘tinggi’ sehingga penyajian kue ini disusun tinggi atau bertingkat-tingkat. Penyusunan ke atas makin menanjak memiliki makna peningkatan kehidupan manis, rejeki atau kemakmuran pemilik rumah.

Kebiasaan yang berlaku di Tiongkok menyantap kue keranjang terlebih dulu saat tahun baru untuk mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan, setelah itu baru makan nasi.

Proses pembuatan kue keranjang juga punya makna lantaran waktu pengerjaannya begitu lama yaitu sekitar 11 – 12 jam sehingga menuntut kesabaran, keteguhan hati, serta tekad untuk mendapatkan hasil maksimal. Usaha yang begitu keras untuk membuatnya pun harus dilakukan dengan pikiran bersih dan jernih, penuh kesopanan serta konsentrasi tinggi sambil membebaskan hati dari prasangka buruk sehingga kue keranjang yang dibuat punya bentuk, rasa, dan tekstur sempurna.

Kepercayaannya, ini hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku, dengan tujuan Dewa Tungku membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (Giok Hong Siang Te). Maka tidak semua orang bisa melakukannya karena jika semua norma dilanggar, bisa jadi kue yang dihasilkan akan terlihat lembek dan pucat.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter
loading…


QWords
CityHype
Gizmo.id
The GeoTimes
Islandnesia