Sejarah Taman Lawang, Taman yang Dikenal Sebagai Tempat Mangkal Para Waria

Sejarah Taman Lawang, Taman yang Dikenal Sebagai Tempat Mangkal Para Waria

Taman yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini sekilas memang terlihat seperti taman-taman pada umumnya. Di pagi atau sore, Taman Lawang biasa digunakan masyarakat untuk beraktivitas atau sekadar duduk-duduk di bawah rindang pepohonan. Di sekitar area taman, banyak pedagang kaki lima yang menawarkan aneka jajanan.

Namun, di malam hari, Taman Lawang menjadi tempat favorit para waria di Jakarta. Taman ini digunakan oleh para waria untuk bertemu dengan waria lain, tempat berekspresi, hingga mengais rezeki.

Sejarah Taman Lawang

Di masa kolonial Belanda, Taman ini dulunya merupakan proyek kota kecil yang diberi nama Niew Gondangdia. Pola rancangan kota tersebut dibuat oleh seorang arsitek asal Belanda, P. A. J. Moojen, dan pada tahun 1910 telah disetujui oleh Gemeente (Kota Praja).

Pembangunan Niew Gondangdia kemudian dimulai pada tahun 1912, dan pada tahun 1918 disempurnakan oleh F. J. Kubatz. Berbeda dengan rancangan Moojen, rancangan Kubatz ini meniadakan lapangan bundar. Sebagai gantinya, Kubatz membangun Taman Suropati dengan ukuran yang lebih kecil. Di kemudian hari, sisa tempat yang masih ada digunakan sebagai lapangan olahraga.

Lalu, bagaimana sejarahnya hingga Taman Lawang dikenal sebagai tempat mangkal waria? Konon, di awal tahun 1970, para waria menjadikan taman ini sebagai tempat berkumpul dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka. Saat itu, mereka belum menjadikan Taman ini sebagai tempat prostitusi. Bahkan, para waria saat itu belum suka menjajakan dirinya seperti sekarang.

Sekitar tahun 1973, para lelaki mulai suka menggoda dan merayu waria-waria yang sedang berkumpul di area taman dengan menawarkan sejumlah uang. Hal itu tentunya memancing para waria untuk menuruti apa yang diminta oleh para lelaki tersebut sampai akhirnya berlanjut hingga saat ini.

Jejak-Jejak Sejarah Bangsa Indonesia di Taman Lawang

Di balik imagenya sebagai tempat mangkal waria, Taman ini ternyata juga menyimpan jejak-jejak sejarah yang menentukan masa depan Bangsa Indonesia. Museum Sasmitaloka yang terletak di Jalan  Latuharhary No.65 Taman Lawangdulunya merupakan bekas rumah dinas Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani.

Di tempat ini, jenderal yang disegani oleh kawan-kawannya dan dikenal loyal terhadap negara dan Presiden Soekarno dibunuh secara keji dihadapan anak-anaknya oleh gerombolan Tjakrabirawa. Di rumah yang memiliki banyak kenangan ini, banyak barang-barang asli milik Jenderal Ahmad Yani yang masih terawat dengan baik. Bahkan, bekas tembakan peluru di dinding maupun pintu kaca masih dibiarkan seperti aslinya.

Demikianlah sekilas mengenai sejarah Taman Lawang dari zaman kolonial Belanda, jejak sejarah bangsa Indonesia yang ada di Taman ini, hingga image Taman Lawang yang dikenal sebagai tempat mangkal waria. Jika kamu penasaran dengan taman yang satu ini, datang saja ke Jalan Taman yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat ini. Namun sebaiknya jangan berkunjung di malam hari, ya!

loading…


[related_post themes="flat" id="16063"]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CityHype
Gizmo.id
The GeoTimes
Islandnesia